Menikah adalah pilihan.

Menurutku, di situasi tertentu terkhususnya di dunia yang tidak pasti ini, memilih untuk tidak menikah juga bisa menjadi keputusan yang layak dipertimbangkan. Bukan karena membenci pernikahan, melainkan karena menyadari bahwa membangun keluarga adalah tanggung jawab yang sangat besar.

Ketika kita memutuskan untuk menikah, kita tidak lagi hanya memikirkan diri sendiri. Ada pasangan yang perlu dihargai, ada perasaan yang perlu dijaga, ada kebutuhan yang harus dipenuhi, dan mungkin suatu hari nanti (sesuai dengan harapan masyarakat setelah pasangan menikah) ada anak yang kehidupannya bergantung pada keputusan-keputusan kita sebagai orang tua atau calon orang tua.

Sayangnya, tidak sedikit orang yang memasuki pernikahan hanya karena merasa "sudah waktunya" (kata siapa? kata oranglah, seolah-olah takdir diciptakan oleh mereka:)), takut dengan omongan orang (nanti dibilang gadis tua/bujang lapuk terutama oleh ibuk-ibuk dan nenek-nenek), atau menganggap cinta saja sudah cukup untuk menikah, tanpa peduli faktor-faktor lainnya seperti kecocokan, finansial, latar belakang hidup, latar belakang saudara. Padahal membangun keluarga membutuhkan lebih dari itu. Kesiapan finansial, kesehatan mental, kemampuan berkomunikasi, serta kemauan untuk terus belajar menjadi orang tua juga memiliki peran yang sangat besar. Orang kerja aja mau pakai CV yang bagus, masa menikah tidak?

Lalu kemudian, ketika sudah menikah dengan segala ketidaksiapan itu, terbitlah anak. Ketika seorang anak beranjak dewasa dan mengalami kesulitan dalam hidupnya, sering kali yang disalahkan adalah sekolah, guru, lingkungan, media sosial, bahkan pemerintah. Padahal mungkin ada ruang untuk bertanya kepada diri sendiri: sudahkah pola asuh yang diberikan benar-benar sehat? Sudahkah anak dibimbing dengan kasih sayang, didengarkan, dan diberikan teladan yang baik? Pernahkah bertanya pada anakmu, bahagiakah dia setiap detik dalam hidupnya karena sudah menjadi anakmu? Pernahkah dicek kesehatan mentalnya pada profesional, sehatkah mentalnya sebagai anakmu? atau Sehatkah mentalmu sebagai orang tua/sebagai suami/sebagai istri? (Monggo dicek, supaya sebelum bertanya dengan kondisi orang lain, tahu terlebih dahulu kondisi kita sudah oke sip mantap dan berhasil dalam pernikahan dan berkeluarga itu).

Anak belajar bukan hanya dari nasihat, tetapi dari apa yang mereka lihat setiap hari. Jika kita berharap mereka tumbuh menjadi pribadi yang jujur, apakah kita sudah membiasakan kejujuran dalam hidup ini? (yakin???) Jika kita ingin mereka menghargai orang lain, apakah kita sendiri menghindari kebiasaan mencaci, merendahkan, atau menggunjing? (include kebiasaan latah yang penuh sumpah serapah atau carutan itu?) Jika kita berharap mereka menjadi pekerja keras, apakah mereka melihat teladan itu dari orang tuanya? (sudah sesukses apa orang tuanya sehingga mengharapkan anaknya tumbuh sebagai pekerja keras yang pantang menyerah)

Jika kita ingin anak tidak terus-menerus terpaku pada layar HP, apakah kita sudah menyediakan waktu khusus untuk benar-benar hadir bersama mereka? Duduk, bercerita, mendengarkan cerita mereka, bermain bersama, dan meletakkan ponsel sejenak. Anak belajar tentang kebiasaan bukan hanya dari aturan yang kita buat, tetapi juga dari contoh yang kita berikan. Sulit meminta anak mengurangi waktu bermain HP jika orang tua sendiri lebih sering menatap layar daripada menatap mata anaknya.

Sebagai orang tua, tentu tidak ada yang sempurna. Semua orang pasti pernah melakukan kesalahan. Namun, menurutku, refleksi diri adalah bagian penting dari proses menjadi orang tua yang lebih baik.

Aku sendiri saat ini merasa lebih nyaman menggunakan waktuku untuk terus bertumbuh—dalam keimanan, pengetahuan, dan memperbaiki diri. Karena bagiku, menikah bukanlah perlombaan atau kewajiban yang harus dipenuhi secepat mungkin. Jika suatu hari aku memilih menikah, aku ingin melakukannya ketika aku benar-benar siap untuk menjadi pasangan dan, jika Allah menghendaki, menjadi orang tua yang bertanggung jawab.

Pada akhirnya, baik menikah maupun tidak menikah adalah pilihan hidup. Yang menurutku jauh lebih penting adalah memastikan bahwa setiap pilihan dijalani dengan penuh kesadaran dan rasa tanggung jawab, bukan sekadar mengikuti ekspektasi orang lain.

Terima kasih sudah membaca.


Ditulis dengan penuh cinta dan penghayatan,

Nica

0 Comments