Nicahae

Nicahae

  • Home
  • Event
  • About
  • Categories
    • Life
      • Healed
      • Hope
      • Hopeless
      • Society
    • Love
      • Broken
      • Hope
      • Hopeless
      • Romantic
    • Self
    • Poem
    • Poetry
  • Contact Us

Life

Love

Self



Pulang kerja seharusnya menjadi bagian yang paling melegakan dari hari. Setelah berjam-jam menghadapi pekerjaan, kemacetan, target, dan percakapan yang tak ada habisnya, kita membayangkan sore sebagai waktu untuk beristirahat. Namun, benarkah kita benar-benar beristirahat?

Sering kali jawabannya tidak.

Sesampainya di rumah, kita membuka media sosial. Lalu menonton serial favorit. Membalas pesan yang belum sempat dibalas. Mendengarkan podcast sambil memasak. Bahkan ketika tubuh berhenti bekerja, pikiran dan indera kita tetap sibuk menerima begitu banyak informasi.

Tanpa sadar, kita hanya mengganti jenis aktivitas, bukan benar-benar memberi ruang bagi tubuh dan pikiran untuk berhenti.

Dr. Saundra Dalton-Smith, seorang dokter penyakit dalam dan penulis Sacred Rest, menjelaskan bahwa tidur bukanlah satu-satunya bentuk istirahat. Ia memperkenalkan konsep tujuh jenis istirahat, salah satunya adalah sensory rest atau istirahat bagi indera. Dalam kehidupan modern yang dipenuhi layar, notifikasi, suara kendaraan, musik, dan percakapan tanpa henti, indera kita bekerja hampir sepanjang hari. Akibatnya, kita bisa merasa lelah meskipun sudah tidur cukup. Mungkin itu sebabnya, sesekali kita tidak membutuhkan hiburan baru. Yang kita butuhkan hanyalah diam. Duduk di teras ketika matahari mulai turun. Memandangi langit yang perlahan berubah warna. Membiarkan ponsel tetap berada di dalam tas. Tidak mendengarkan apa pun selain suara angin atau burung yang pulang ke sarangnya.
Tidak ada yang perlu dikejar.
Tidak ada yang perlu dipikirkan.
Tidak ada yang harus diproduksi.

Kita hidup di zaman yang membuat diam terasa seperti kemalasan. Padahal, diam bisa menjadi bentuk istirahat yang paling jujur. Saat kita berhenti sejenak, kita mulai menyadari sesuatu yang selama ini luput dari perhatian: napas.

Kita bernapas sejak hari pertama dilahirkan, tetapi mungkin sudah bertahun-tahun kita tidak benar-benar merasakannya. Tarikan udara yang masuk perlahan. Dada yang mengembang. Hembusan napas yang keluar dengan tenang.

Praktik mindfulness juga mengajarkan hal serupa: mengembalikan perhatian pada napas dan pengalaman saat ini dapat membantu tubuh keluar dari mode "terus bekerja" dan memberi ruang untuk merasa lebih tenang. Mungkin istirahat bukan selalu tentang tidur lebih lama. Mungkin istirahat adalah memberi izin kepada diri sendiri untuk tidak melakukan apa pun selama beberapa menit. Tanpa merasa bersalah. Tanpa merasa sedang membuang waktu. Karena tidak semua waktu harus menghasilkan sesuatu.

Ada waktu yang memang diciptakan hanya untuk mengembalikan kita kepada diri sendiri. Dan ketika sore benar-benar dinikmati, malam terasa lebih ringan. Tubuh lebih rileks, pikiran tidak terlalu bising, dan tidur datang tanpa perlu dipaksa. Lalu esok pagi, sebelum memikirkan daftar pekerjaan yang panjang, sempatkanlah menarik satu napas yang dalam. Lalu bersyukur. Karena hari ini, kita masih diberi kesempatan untuk menghirup udara yang sama. Dan mungkin, itu sudah lebih dari cukup untuk memulai hari.

Terima kasih sudah datang dan membaca.


Salam hangat,


Nica Hae

The rectangle room I wish,
Just me and all I cherish.
Let everything vanish,
but please, stay my peace.


Where is the old song
You sang to me every morning?
Now I don't know where I belong,
lost in a crowd that's never warming.


From day to night,
rise and set,
it doesn't feel right,
yet guilt and pain fill my heart.


For the Lord who sees everything,
Don't You see I'm begging?
In this small space where I'm praying,
I ask for a blessing, where silence is singing.

Menurutku, di situasi tertentu terkhususnya di dunia yang tidak pasti ini, memilih untuk tidak menikah juga bisa menjadi keputusan yang layak dipertimbangkan. Bukan karena membenci pernikahan, melainkan karena menyadari bahwa membangun keluarga adalah tanggung jawab yang sangat besar.

Ketika kita memutuskan untuk menikah, kita tidak lagi hanya memikirkan diri sendiri. Ada pasangan yang perlu dihargai, ada perasaan yang perlu dijaga, ada kebutuhan yang harus dipenuhi, dan mungkin suatu hari nanti (sesuai dengan harapan masyarakat setelah pasangan menikah) ada anak yang kehidupannya bergantung pada keputusan-keputusan kita sebagai orang tua atau calon orang tua.

Sayangnya, tidak sedikit orang yang memasuki pernikahan hanya karena merasa "sudah waktunya" (kata siapa? kata oranglah, seolah-olah takdir diciptakan oleh mereka:)), takut dengan omongan orang (nanti dibilang gadis tua/bujang lapuk terutama oleh ibuk-ibuk dan nenek-nenek), atau menganggap cinta saja sudah cukup untuk menikah, tanpa peduli faktor-faktor lainnya seperti kecocokan, finansial, latar belakang hidup, latar belakang saudara. Padahal membangun keluarga membutuhkan lebih dari itu. Kesiapan finansial, kesehatan mental, kemampuan berkomunikasi, serta kemauan untuk terus belajar menjadi orang tua juga memiliki peran yang sangat besar. Orang kerja aja mau pakai CV yang bagus, masa menikah tidak?

Lalu kemudian, ketika sudah menikah dengan segala ketidaksiapan itu, terbitlah anak. Ketika seorang anak beranjak dewasa dan mengalami kesulitan dalam hidupnya, sering kali yang disalahkan adalah sekolah, guru, lingkungan, media sosial, bahkan pemerintah. Padahal mungkin ada ruang untuk bertanya kepada diri sendiri: sudahkah pola asuh yang diberikan benar-benar sehat? Sudahkah anak dibimbing dengan kasih sayang, didengarkan, dan diberikan teladan yang baik? Pernahkah bertanya pada anakmu, bahagiakah dia setiap detik dalam hidupnya karena sudah menjadi anakmu? Pernahkah dicek kesehatan mentalnya pada profesional, sehatkah mentalnya sebagai anakmu? atau Sehatkah mentalmu sebagai orang tua/sebagai suami/sebagai istri? (Monggo dicek, supaya sebelum bertanya dengan kondisi orang lain, tahu terlebih dahulu kondisi kita sudah oke sip mantap dan berhasil dalam pernikahan dan berkeluarga itu).

Anak belajar bukan hanya dari nasihat, tetapi dari apa yang mereka lihat setiap hari. Jika kita berharap mereka tumbuh menjadi pribadi yang jujur, apakah kita sudah membiasakan kejujuran dalam hidup ini? (yakin???) Jika kita ingin mereka menghargai orang lain, apakah kita sendiri menghindari kebiasaan mencaci, merendahkan, atau menggunjing? (include kebiasaan latah yang penuh sumpah serapah atau carutan itu?) Jika kita berharap mereka menjadi pekerja keras, apakah mereka melihat teladan itu dari orang tuanya? (sudah sesukses apa orang tuanya sehingga mengharapkan anaknya tumbuh sebagai pekerja keras yang pantang menyerah)

Jika kita ingin anak tidak terus-menerus terpaku pada layar HP, apakah kita sudah menyediakan waktu khusus untuk benar-benar hadir bersama mereka? Duduk, bercerita, mendengarkan cerita mereka, bermain bersama, dan meletakkan ponsel sejenak. Anak belajar tentang kebiasaan bukan hanya dari aturan yang kita buat, tetapi juga dari contoh yang kita berikan. Sulit meminta anak mengurangi waktu bermain HP jika orang tua sendiri lebih sering menatap layar daripada menatap mata anaknya.

Sebagai orang tua, tentu tidak ada yang sempurna. Semua orang pasti pernah melakukan kesalahan. Namun, menurutku, refleksi diri adalah bagian penting dari proses menjadi orang tua yang lebih baik.

Aku sendiri saat ini merasa lebih nyaman menggunakan waktuku untuk terus bertumbuh—dalam keimanan, pengetahuan, dan memperbaiki diri. Karena bagiku, menikah bukanlah perlombaan atau kewajiban yang harus dipenuhi secepat mungkin. Jika suatu hari aku memilih menikah, aku ingin melakukannya ketika aku benar-benar siap untuk menjadi pasangan dan, jika Allah menghendaki, menjadi orang tua yang bertanggung jawab.

Pada akhirnya, baik menikah maupun tidak menikah adalah pilihan hidup. Yang menurutku jauh lebih penting adalah memastikan bahwa setiap pilihan dijalani dengan penuh kesadaran dan rasa tanggung jawab, bukan sekadar mengikuti ekspektasi orang lain.

Terima kasih sudah membaca.


Ditulis dengan penuh cinta dan penghayatan,

Nica

Gak ada yang pernah benar-benar menjelaskan kalau dunia kerja akan semenyebalkan ini. Waktu sekolah dulu, kita tumbuh dengan bayangan bahwa setelah lulus semuanya akan terasa lebih jelas: dapat pekerjaan, punya penghasilan sendiri, lalu pelan-pelan hidup membaik. Orang dewasa terlihat begitu yakin menjalani hidupnya sampai kita mengira mereka memang tahu apa yang sedang mereka lakukan. Padahal setelah sampai di fase ini, aku mulai sadar kalau sebagian besar orang sebenarnya hanya sedang bertahan sambil berpura-pura baik-baik saja.

Dulu hidup terasa lebih sederhana. Bangun pagi tidak diawali rasa cemas yang menggantung di kepala. Rutinitas seperti mandi, sarapan, lalu berangkat sekolah terasa ringan karena satu-satunya hal yang perlu dipikirkan hanyalah tugas, ujian, atau nilai. Bahkan tekanan saat itu masih terasa manusiawi. Belajar pun menyenangkan bagiku. Ada kepuasan ketika memahami sesuatu, ada rasa bangga ketika berhasil mengerjakan soal yang sulit. Sekolah, setidaknya dulu, terasa seperti tempat di mana usaha dan hasil masih punya hubungan yang cukup masuk akal.

Sekarang, bangun pagi sering kali dimulai dengan menatap langit-langit kamar lebih lama dari yang seharusnya. Ada jeda kecil sebelum benar-benar sadar bahwa hari harus dimulai lagi. Kadang belum juga membuka laptop, kepala sudah lebih dulu lelah membayangkan orang-orang yang harus dihadapi, percakapan-percakapan yang melelahkan, atau drama kecil yang sebenarnya tidak penting tetapi entah kenapa selalu menguras energi paling banyak. Dan lucunya, pekerjaan itu sendiri sering kali bukan bagian yang paling berat. Yang melelahkan justru ekosistem di sekitarnya.

Sekolah, khususnya pelajaran PPKn, mengajarkan kita tentang kerja sama, tentang musyawarah untuk mufakat, tentang pentingnya mendahulukan kepentingan bersama. Tapi dunia kerja memperlihatkan versi yang jauh lebih rumit dari itu. Di sini, keputusan jarang benar-benar dibuat demi kebaikan semua orang. Kepentingan adalah mata uang utama dalam hampir setiap interaksi. Orang mendukung ide bukan karena ide itu baik, tetapi karena siapa yang mengusulkannya. Pendapat menjadi valid ketika keluar dari mulut orang yang punya jabatan lebih tinggi. Bahkan hal-hal yang secara moral terlihat salah pun bisa berubah menjadi “masuk akal” selama menguntungkan pihak tertentu.

Aku mulai sadar kalau banyak nilai yang diajarkan sekolah sebenarnya bekerja dengan asumsi bahwa semua orang punya niat baik. Padahal kenyataannya tidak begitu. Dunia kerja dipenuhi orang-orang yang sangat pandai terlihat kompeten tanpa benar-benar bekerja, dan ironisnya, kemampuan semacam itu sering lebih dihargai daripada kerja keras yang sesungguhnya. Ada orang yang pekerjaannya paling sedikit tetapi suaranya paling besar. Ada yang kontribusinya biasa saja, tetapi karena pandai membangun citra, ia selalu terlihat paling berjasa. Sementara orang-orang yang benar-benar menopang pekerjaan sehari-hari justru sibuk membereskan kekacauan diam-diam tanpa pernah mendapat ruang untuk terlihat.

Mungkin itu sebabnya menjadi idealis terasa sangat melelahkan ketika sudah masuk dunia kerja. Bukan karena idealisme itu salah, tetapi karena sistemnya sering kali tidak memberi ruang untuk orang yang terlalu lurus. Di tengah ekonomi yang makin sulit, banyak orang akhirnya belajar menyesuaikan diri dengan cara yang paling aman untuk bertahan. Menjilat atasan dianggap kemampuan sosial. Mengorbankan prinsip dianggap bentuk profesionalisme. Bahkan diam saat melihat sesuatu yang salah sering dipilih karena dianggap lebih realistis daripada mengambil risiko kehilangan posisi.

Dan aku tidak sepenuhnya bisa menyalahkan mereka. Dunia kerja punya cara aneh untuk membuat orang perlahan mengubah standar moralnya sendiri. Awalnya mungkin hanya menoleransi hal kecil. Lama-lama terbiasa. Setelah itu ikut melakukannya. Semua dibungkus dengan alasan yang terdengar dewasa: kebutuhan hidup, cicilan, keluarga, karier, masa depan. Sampai pada titik tertentu, orang tidak lagi bertanya apakah sesuatu itu benar atau salah, tetapi apakah itu aman dilakukan.

Yang juga tidak diajarkan sekolah adalah kenyataan bahwa tekanan selalu mengalir ke bawah. Orang yang berada di posisi paling tinggi hampir selalu punya ruang lebih besar untuk melakukan kesalahan, sementara yang di bawah harus bekerja dua kali lebih keras hanya untuk dianggap cukup. Ada budaya diam-diam yang mengharuskan bawahan menerima banyak hal tanpa banyak bertanya. Semakin rendah posisi seseorang, semakin kecil haknya untuk terlihat lelah. Semua orang diminta profesional, tetapi profesionalisme sering kali hanya dituntut dari mereka yang tidak punya kuasa.

Kadang aku berpikir, mungkin dulu kita tidak perlu terlalu banyak belajar tentang gotong royong dalam bentuk yang ideal. Karena pada akhirnya, tidak semua orang benar-benar ingin bergotong royong. Harusnya sekolah juga mengajarkan apa yang harus dilakukan ketika kerja kelompok ditinggal sendirian. Ketika hasil kerja kita dipakai orang lain untuk terlihat hebat. Ketika kita harus memilih antara mempertahankan prinsip atau menyesuaikan diri supaya tetap punya tempat. Harusnya ada pelajaran tentang bagaimana cara menghadapi orang manipulatif, cara menjaga diri di lingkungan yang kompetitif, atau cara menerima bahwa tidak semua usaha akan dihargai secara adil.

Sebab setelah bekerja, aku mulai mengerti bahwa menjadi dewasa bukan tentang akhirnya menemukan jawaban atas hidup. Menjadi dewasa ternyata lebih mirip proses kehilangan banyak ilusi secara perlahan. Tentang menyadari bahwa sistem tidak selalu berpihak pada orang yang bekerja paling keras. Tentang memahami kalau kompetensi dan penghargaan sering berjalan di jalur yang berbeda. Dan tentang menerima bahwa kadang-kadang, bertahan sampai akhir hari saja sudah merupakan pencapaian yang cukup besar.

Mungkin kalau dulu sekolah mengajarkan lebih banyak tentang cara survive daripada sekadar cara berhasil, transisi menuju dunia kerja tidak akan terasa terlalu mengejutkan. Atau mungkin tetap akan menyakitkan. Hanya saja setidaknya kita datang dengan ekspektasi yang lebih realistis, dan tidak terlalu bingung ketika akhirnya sadar bahwa dunia orang dewasa ternyata dibangun bukan hanya oleh kerja keras, tetapi juga oleh ego, kepentingan, hierarki, dan kemampuan untuk terus bertahan meski perlahan lelah sendiri.

Terima kasih sudah datang dan membaca, semoga hidup senantiasa memberimu kejutan yang baik.

-Nicahae


Belakangan ini, terlalu banyak hal yang terjadi.

Sejak peristiwa pink-hijau itu, eskalasi konflik terasa semakin meninggi. Orang-orang mulai menunjukkan taringnya. Yang tidak tertuduh merasa tertuduh. Yang tidak tersentuh, ikut merasa tersentuh. Menyenggol pohon yang selama ini tenang dan rindang, namun tidak siap ketika disentuh balik.

Kicau burung terdengar semakin riuh di dahannya—berisik, saling bersahutan, menyebarkan rumor ke mana-mana. Mereka berlindung di balik nama Tuhan, seolah itu cukup untuk membenarkan segalanya.

Jika ada yang bertanya siapa yang paling dirugikan dalam semua ini, mungkin jawabannya sederhana: pohon yang tenang dan rindang itu.

Ironisnya, masing-masing merasa dirinya paling benar. Paling berhak atas kebenaran. Paling dekat dengan rahmat Tuhan. Sementara itu, kata-kata terus berjatuhan, tidak lagi sekadar suara, tetapi membawa gema yang bising. Dari dada yang penuh emosi, lahir ujaran-ujaran yang kehilangan arah. Bukan untuk mencari jalan tengah, melainkan untuk memperlebar jarak.

Ada yang terus berbicara, tanpa henti, tanpa jeda...seolah semua harus keluar, apa pun bentuknya. Hingga yang tersisa bukan lagi percakapan, melainkan pecahan-pecahan yang memecah.

Dan di tengah semua itu, kita dipaksa memilih:
ikut bersuara dalam kebisingan,
atau tetap menjadi pohon tenang, meski terus diterpa.

Older Posts Home

A gentle space for those who are learning how to live a little more softly 🦋

Notes
Poetry

ABOUT NICA

I adore writing and savoring life's gentle pace, finding excitement in studying and the magic of books. By embracing mindfulness, I see beauty in every little detail of the world around me.

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • Contact Us
  • Menikah adalah pilihan.
  • Endless Rhyme of Love
  • Rangka Emas
  • Howling Fears of Dogs

Categories

  • Broken 5
  • Catatan Kecil Nica 43
  • Cerita Pendek 13
  • Edukasi 9
  • Healed 5
  • Hope 7
  • Hopeless 4
  • Hubungan Internasional 4
  • Life 15
  • Love 17
  • Pengembangan Diri 5
  • Peri & Bulan 1
  • Poem 30
  • Poetry 10
  • Sajak dan Puisi 6
  • Self-love 3
  • Society 6
  • Spiritual 5
  • Technology 1

Advertisement

Powered by Blogger

Search This Blog

paperdiaryclub

Much Love,

Advertisement

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates