Nicahae

Nicahae

  • Home
  • Event
  • About
  • Categories
    • Life
      • Healed
      • Hope
      • Hopeless
      • Society
    • Love
      • Broken
      • Hope
      • Hopeless
      • Romantic
    • Self
    • Poem
    • Poetry
  • Contact Us

Life

Love

Self

Gak ada yang pernah benar-benar menjelaskan kalau dunia kerja akan semenyebalkan ini. Waktu sekolah dulu, kita tumbuh dengan bayangan bahwa setelah lulus semuanya akan terasa lebih jelas: dapat pekerjaan, punya penghasilan sendiri, lalu pelan-pelan hidup membaik. Orang dewasa terlihat begitu yakin menjalani hidupnya sampai kita mengira mereka memang tahu apa yang sedang mereka lakukan. Padahal setelah sampai di fase ini, aku mulai sadar kalau sebagian besar orang sebenarnya hanya sedang bertahan sambil berpura-pura baik-baik saja.

Dulu hidup terasa lebih sederhana. Bangun pagi tidak diawali rasa cemas yang menggantung di kepala. Rutinitas seperti mandi, sarapan, lalu berangkat sekolah terasa ringan karena satu-satunya hal yang perlu dipikirkan hanyalah tugas, ujian, atau nilai. Bahkan tekanan saat itu masih terasa manusiawi. Belajar pun menyenangkan bagiku. Ada kepuasan ketika memahami sesuatu, ada rasa bangga ketika berhasil mengerjakan soal yang sulit. Sekolah, setidaknya dulu, terasa seperti tempat di mana usaha dan hasil masih punya hubungan yang cukup masuk akal.

Sekarang, bangun pagi sering kali dimulai dengan menatap langit-langit kamar lebih lama dari yang seharusnya. Ada jeda kecil sebelum benar-benar sadar bahwa hari harus dimulai lagi. Kadang belum juga membuka laptop, kepala sudah lebih dulu lelah membayangkan orang-orang yang harus dihadapi, percakapan-percakapan yang melelahkan, atau drama kecil yang sebenarnya tidak penting tetapi entah kenapa selalu menguras energi paling banyak. Dan lucunya, pekerjaan itu sendiri sering kali bukan bagian yang paling berat. Yang melelahkan justru ekosistem di sekitarnya.

Sekolah, khususnya pelajaran PPKn, mengajarkan kita tentang kerja sama, tentang musyawarah untuk mufakat, tentang pentingnya mendahulukan kepentingan bersama. Tapi dunia kerja memperlihatkan versi yang jauh lebih rumit dari itu. Di sini, keputusan jarang benar-benar dibuat demi kebaikan semua orang. Kepentingan adalah mata uang utama dalam hampir setiap interaksi. Orang mendukung ide bukan karena ide itu baik, tetapi karena siapa yang mengusulkannya. Pendapat menjadi valid ketika keluar dari mulut orang yang punya jabatan lebih tinggi. Bahkan hal-hal yang secara moral terlihat salah pun bisa berubah menjadi “masuk akal” selama menguntungkan pihak tertentu.

Aku mulai sadar kalau banyak nilai yang diajarkan sekolah sebenarnya bekerja dengan asumsi bahwa semua orang punya niat baik. Padahal kenyataannya tidak begitu. Dunia kerja dipenuhi orang-orang yang sangat pandai terlihat kompeten tanpa benar-benar bekerja, dan ironisnya, kemampuan semacam itu sering lebih dihargai daripada kerja keras yang sesungguhnya. Ada orang yang pekerjaannya paling sedikit tetapi suaranya paling besar. Ada yang kontribusinya biasa saja, tetapi karena pandai membangun citra, ia selalu terlihat paling berjasa. Sementara orang-orang yang benar-benar menopang pekerjaan sehari-hari justru sibuk membereskan kekacauan diam-diam tanpa pernah mendapat ruang untuk terlihat.

Mungkin itu sebabnya menjadi idealis terasa sangat melelahkan ketika sudah masuk dunia kerja. Bukan karena idealisme itu salah, tetapi karena sistemnya sering kali tidak memberi ruang untuk orang yang terlalu lurus. Di tengah ekonomi yang makin sulit, banyak orang akhirnya belajar menyesuaikan diri dengan cara yang paling aman untuk bertahan. Menjilat atasan dianggap kemampuan sosial. Mengorbankan prinsip dianggap bentuk profesionalisme. Bahkan diam saat melihat sesuatu yang salah sering dipilih karena dianggap lebih realistis daripada mengambil risiko kehilangan posisi.

Dan aku tidak sepenuhnya bisa menyalahkan mereka. Dunia kerja punya cara aneh untuk membuat orang perlahan mengubah standar moralnya sendiri. Awalnya mungkin hanya menoleransi hal kecil. Lama-lama terbiasa. Setelah itu ikut melakukannya. Semua dibungkus dengan alasan yang terdengar dewasa: kebutuhan hidup, cicilan, keluarga, karier, masa depan. Sampai pada titik tertentu, orang tidak lagi bertanya apakah sesuatu itu benar atau salah, tetapi apakah itu aman dilakukan.

Yang juga tidak diajarkan sekolah adalah kenyataan bahwa tekanan selalu mengalir ke bawah. Orang yang berada di posisi paling tinggi hampir selalu punya ruang lebih besar untuk melakukan kesalahan, sementara yang di bawah harus bekerja dua kali lebih keras hanya untuk dianggap cukup. Ada budaya diam-diam yang mengharuskan bawahan menerima banyak hal tanpa banyak bertanya. Semakin rendah posisi seseorang, semakin kecil haknya untuk terlihat lelah. Semua orang diminta profesional, tetapi profesionalisme sering kali hanya dituntut dari mereka yang tidak punya kuasa.

Kadang aku berpikir, mungkin dulu kita tidak perlu terlalu banyak belajar tentang gotong royong dalam bentuk yang ideal. Karena pada akhirnya, tidak semua orang benar-benar ingin bergotong royong. Harusnya sekolah juga mengajarkan apa yang harus dilakukan ketika kerja kelompok ditinggal sendirian. Ketika hasil kerja kita dipakai orang lain untuk terlihat hebat. Ketika kita harus memilih antara mempertahankan prinsip atau menyesuaikan diri supaya tetap punya tempat. Harusnya ada pelajaran tentang bagaimana cara menghadapi orang manipulatif, cara menjaga diri di lingkungan yang kompetitif, atau cara menerima bahwa tidak semua usaha akan dihargai secara adil.

Sebab setelah bekerja, aku mulai mengerti bahwa menjadi dewasa bukan tentang akhirnya menemukan jawaban atas hidup. Menjadi dewasa ternyata lebih mirip proses kehilangan banyak ilusi secara perlahan. Tentang menyadari bahwa sistem tidak selalu berpihak pada orang yang bekerja paling keras. Tentang memahami kalau kompetensi dan penghargaan sering berjalan di jalur yang berbeda. Dan tentang menerima bahwa kadang-kadang, bertahan sampai akhir hari saja sudah merupakan pencapaian yang cukup besar.

Mungkin kalau dulu sekolah mengajarkan lebih banyak tentang cara survive daripada sekadar cara berhasil, transisi menuju dunia kerja tidak akan terasa terlalu mengejutkan. Atau mungkin tetap akan menyakitkan. Hanya saja setidaknya kita datang dengan ekspektasi yang lebih realistis, dan tidak terlalu bingung ketika akhirnya sadar bahwa dunia orang dewasa ternyata dibangun bukan hanya oleh kerja keras, tetapi juga oleh ego, kepentingan, hierarki, dan kemampuan untuk terus bertahan meski perlahan lelah sendiri.

Terima kasih sudah datang dan membaca, semoga hidup senantiasa memberimu kejutan yang baik.

-Nicahae


Belakangan ini, terlalu banyak hal yang terjadi.

Sejak peristiwa pink-hijau itu, eskalasi konflik terasa semakin meninggi. Orang-orang mulai menunjukkan taringnya. Yang tidak tertuduh merasa tertuduh. Yang tidak tersentuh, ikut merasa tersentuh. Menyenggol pohon yang selama ini tenang dan rindang, namun tidak siap ketika disentuh balik.

Kicau burung terdengar semakin riuh di dahannya—berisik, saling bersahutan, menyebarkan rumor ke mana-mana. Mereka berlindung di balik nama Tuhan, seolah itu cukup untuk membenarkan segalanya.

Jika ada yang bertanya siapa yang paling dirugikan dalam semua ini, mungkin jawabannya sederhana: pohon yang tenang dan rindang itu.

Ironisnya, masing-masing merasa dirinya paling benar. Paling berhak atas kebenaran. Paling dekat dengan rahmat Tuhan. Sementara itu, kata-kata terus berjatuhan, tidak lagi sekadar suara, tetapi membawa gema yang bising. Dari dada yang penuh emosi, lahir ujaran-ujaran yang kehilangan arah. Bukan untuk mencari jalan tengah, melainkan untuk memperlebar jarak.

Ada yang terus berbicara, tanpa henti, tanpa jeda...seolah semua harus keluar, apa pun bentuknya. Hingga yang tersisa bukan lagi percakapan, melainkan pecahan-pecahan yang memecah.

Dan di tengah semua itu, kita dipaksa memilih:
ikut bersuara dalam kebisingan,
atau tetap menjadi pohon tenang, meski terus diterpa.

Pagi ini, dan beberapa waktu terakhir, aku sering memikirkan satu hal: penggunaan AI.

Harus diakui, kehadiran AI memang sangat mempermudah kehidupan kita. Banyak hal bisa diselesaikan dengan lebih cepat, lebih praktis, dan terasa lebih efisien. Dalam banyak aspek, AI benar-benar menjadi alat yang membantu. Namun di sisi lain, muncul pertanyaan yang cukup mengganggu: apakah kita mulai terlalu bergantung?

Dalam konteks pekerjaanku—belajar dan mengajar—hal ini terasa seperti dua sisi mata uang: kesempatan sekaligus tantangan. Kesempatannya jelas. Siswa sekarang bisa belajar lebih banyak dengan bantuan AI. Mereka bisa mencari tahu apa pun yang terlintas di pikiran mereka, kapan saja. Rasa ingin tahu menjadi lebih mudah untuk dipenuhi. Tapi tantangannya juga tidak kecil. Ketika jawaban tersedia secara instan, proses berpikir sering kali terlewat. Dulu, saat kita menggunakan Google Search, kita perlu membaca berbagai artikel, membandingkan informasi, lalu menyusun pemahaman sendiri. Proses itu mungkin memakan waktu, tetapi di situlah kemampuan berpikir kita dilatih. Sekarang, dengan adanya AI seperti Google Gemini, jawaban bisa langsung muncul di bagian paling atas. Praktis, tetapi juga berisiko membuat kita menerima informasi begitu saja tanpa mengecek kembali kebenarannya. Siswa bisa saja menganggap jawaban tersebut pasti benar, tanpa merasa perlu mencari validasi lebih lanjut.

Hal ini tidak hanya terjadi pada siswa, tetapi juga pada tenaga pendidik. Dulu, untuk membuat surat, pengumuman, atau perencanaan pembelajaran, kita perlu melakukan riset, mencari referensi, dan menyusun sendiri. Sekarang, semuanya bisa dilakukan dengan bantuan AI dalam hitungan detik. Tentu ini membantu, tetapi jika digunakan tanpa batas, kita bisa kehilangan kesempatan untuk melatih kemampuan berpikir kita sendiri. Lalu muncul pertanyaan yang cukup penting: Jika pendidik saja mulai jarang melatih cara berpikirnya, bagaimana kita bisa mengajarkan hal tersebut kepada siswa? Bukan berarti AI harus dihindari. Justru sebaliknya, AI bisa menjadi alat yang sangat bermanfaat jika digunakan dengan bijak.

Menggunakan AI untuk membantu mencari ide, memperluas sudut pandang, atau menghemat waktu adalah hal yang wajar. Namun, jika penggunaannya hanya sebatas menyalin dan sedikit mengedit agar terlihat “lebih manusiawi”, maka kita melewatkan esensinya. Kita bukan robot, dan yang kita ajarkan juga bukan robot. Jadi, mengapa harus sepenuhnya bergantung pada cara kerja robot? Perkembangan teknologi seharusnya membantu kita beradaptasi, meningkatkan kualitas berpikir, dan mengambil keputusan yang lebih baik. Bukan justru membuat kita terbiasa dengan jawaban instan hingga perlahan kehilangan kemampuan untuk berpikir kritis.

Bayangkan jika suatu saat kita merasa perlu bertanya pada AI bahkan untuk menyusum kalimat sederhana atau menyampaikan ide pribadi. Rasanya cukup mengkhawatirkan. Mungkin ini bukan tentang menolak AI, tetapi tentang bagaimana kita menggunakannya dengan lebih sadar. Selalu penasaran. Teruslah bertanya. Dan yang paling penting, tetaplah berpikir.


Terima kasih sudah datang dan membaca,

Nica

Hiii everyone,

Long time no see.

It’s been forever since I wrote here. And as usual, please excuse my“broken English” — I’m trying my best.

If you’ve been around for a while, you know I usually write at midnight. That’s kind of my thing. But maybe this year I’m turning over a new leaf and writing in the morning instead. Not from my cozy laptop in bed, but from my office computer. Look at me being productive. yeu.

So… why did I disappear for a whole year?

Honestly? 2025 came and went in the blink of an eye. I didn’t even get the chance to put it into words. I couldn’t capture it in a single digital post. And that stings a little. But hey, better late than never. I’ll unpack it slowly.

First things first...... ((sebagian text hilang))

I think when we’re genuinely living in the present...we sometimes forget to capture it. I used to beat myself up about that. I wanted to take more pictures, go home, write it all down in my diary like some coming-of-age movie. But time flies ((sebagian text hilang — and I hate to delete it actually. Tapi yaudalah. Nasippp.))

and another anyway...

I moved to a different program this year. I used to teach younger kids — even though I didn’t really like kids at first, I actually enjoyed it. But now I teach middle school as a Social Studies teacher. Did I tell you that alreadyyyyyy?!

And for the love of God, it’s so fun. I’m finally free from math. Now I get to teach economics, geography, history, and social culture of course. My students are teenagers now. Real teens. With real feelings and real drama.

I can actually talk to them. Like, really talk. I’m even mutuals with some of them on my second account. We don’t just chat about school...we talk about home, friendships, crushes, heartbreak. Their little puppy-love sagas? Adorable. They pour their hearts up, and somehow they trust me. I’m really grateful to be their teacher.

On a completely different note: I’ve officially entered my furniture era.

I don’t know what happened, but I fell head over heels for decorating my tiny bedroom. I’ve been saving up just to buy shelves, lamps, random little pieces that spark joy. Is this what adulthood looks like? Because if it is, I’m leaning into it.

That’s pretty much it.

It was challenging. I had to find my footing in a new place, with new people. Heart-to-heart talks squeezed into limited time. Reading the same book but somehow not always being on the same page.

I lost my temper more times than I’d like to admit. I’m working on it. Baby steps, yeu.

Sometimes I wonder if I should bend a little to fit someone else — or fit the society. But I hope I can learn to tolerate more, with a sincere heart, without losing who I am.

Right now, the vibe is warm. I’m eating cherries — look at over there —  and listening to “There Is a Light That Never Goes Out” by The Smiths. It started cozy… but somewhere along the way, it turned a little gloomy. Funny how that happens when you start digging into your thoughts.

Anyway.

That’s my little heart-to-heart for today.

See you in my next yapping session.



Contemplating my dinner plate—
bacon, ginger, potatoes, shrimp,
with salt and pepper scattered thin.

Time keeps ticking, for nothing.

It’s getting cold,
grease clings to little cute plastic-ceramic curves.

Yet who cares if it looks fine,
when no one sees?
Blaming the oxygen it takes,
the spaces it occupies.
Who cares when no one
ever expected someone—
someone who could knock it off,
call it back to the table,
pull it from the line
where it’s always the one
left behind with nothing?

Time’s ticking, rising again.
Contemplating my dinner plate,
and whatever comes next.
Newer Posts Older Posts Home

A gentle space for those who are learning how to live a little more softly 🦋

Notes
Poetry

ABOUT NICA

I adore writing and savoring life's gentle pace, finding excitement in studying and the magic of books. By embracing mindfulness, I see beauty in every little detail of the world around me.

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • Contact Us
  • Endless Rhyme of Love
  • Rangka Emas
  • Howling Fears of Dogs
  • (Not yet)

Categories

  • Broken 5
  • Catatan Kecil Nica 42
  • Cerita Pendek 13
  • Edukasi 9
  • Healed 5
  • Hope 7
  • Hopeless 4
  • Hubungan Internasional 4
  • Life 14
  • Love 17
  • Pengembangan Diri 5
  • Peri & Bulan 1
  • Poem 29
  • Poetry 10
  • Sajak dan Puisi 6
  • Self-love 2
  • Society 5
  • Spiritual 5
  • Technology 1

Advertisement

Powered by Blogger

Search This Blog

paperdiaryclub

Much Love,

Advertisement

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates